Selasa, 07 April 2015
klasifikasi Klebsiella
Taksonomi
Klasifikasi
Klebsiella sp secara ilmiah:
·
Kingdom :
Bacteria
·
Phylum :
Proteobacteria
·
Class :
Gamma proteobacteria
·
Order :
Enterobacteriales
·
Family :
Enterobacteriaceae
·
Genus :
Klebsiella
·
Spesies :
- Klebsiella pneumonia
-Klebsiella oxytoca
-Klebsiella ozaena
-Klebsiella rhinoscleromatis
B.
Morfologi
dan sifat bakteri Klebsiella sp
Merupakan
bakteri gram (-) , berbentuk batang pendek, memiliki ukuran 0,5-1,5 x 1,2µ.
Bakteri ini memiliki kapsul, tetapi tidak membentuk spora. Klebsiella tidak
mampu bergerak karena tidak memiliki flagel tetapi mampu memfermentasikan
karbohidrat membentuk asam dan gas.
Spesies
klebsiella menunjukan pertumbuhan mucoid, kapsul polisakarida yang besar dan
tidak motil. Mereka biasanya memberikan hasil
tes yang positif untuk lisin dekarboksilase dan sitrat. Klebsiella
memberikan reaksi Voges-Proskauer yang positif
Sifat
Biakan atau Kultur dari Klebsiella sp tersebut
pada media EMB dan Mac Conkey koloni menjadi merah. Kemudian pada media padat
tumbuh koloni mucoid (24 jam). Mudah dibiakan di media sederhana (bouillon
agar) dengan koloni putih keabuan dan permukaan mengkilap.
C.
Tipe Antigen
Klebsiella memiliki struktur antigen. Anggota dari genus
Klebsiella biasanya mengungkapkan 2 jenis antigen pada permukaan sel mereka,
yaitu:
·
Antigen O merupakan bagian terluar
dinding sel lipopolisakarida dan terdiri dari unit berulang polisakarida.
Beberapa polisakarida spesifik O mengandung gula unik. Antigen O tahan terhadap
panas dan alcohol dan biasanya dideteksi dengan cara aglutinasi bakteri.
Antibody terhadap antigen O adalah IgM.
·
Antigen K merupakan bagian terluar dari
antigen O pada beberapa, tetapi tidak pada enterobacteriaceae. Beberapa antigen
K adalah polisakarida dan yang lainnya protein.
D. Enzim Klebsiella pneumoniae
Bakteri
klebsiella ini memiliki enzim urease dan enzim sitrat permiase. Klebsiella juga
mampu memproduksi enzim ESBL (Extended Spektrum Beta Lactamase) yang dapat
melumpuhkan kerja berbagai jenis antibiotic. Hal ini menyebabkan bakteri kebal
dan sulit dilumpuhkan.
Perlawanan
terhadap antibiotik tersebut dengan cara :
(1) Obat inaktivasi oleh enzim degradasi
atau modifikasi seperti lactamaces beta dan vamino glikosida transferases,
(2)
Perubahan obat target
(3) Munculnya suatu jalur bypass yang tidak
dihambat oleh obat
(4)
Mengurangi permeabilitas membran untuk obat
(5) Obat penghabisan dari sel-sel.
E.
Patogenitas
bakteri Klebsiella pneumoniae
Melalui saluran
pernafasan bagian atas bakteri masuk ke jaringan paru, terjadi penghancuran
jaringan, terbentuk daerah purulen dan nekrosis parenkim paru, terjadi abses
paru, bronkiektasis, bakteri masuk aliran darah, septicemia, abses liver.
-
Kapsul memiliki kemampuan untuk
mempertahankan organisme terhadap fagositosis dan pembunuhan oleh serum normal
-
Galur yang berkapsul lebih virulen
daripada galur yang berkapsul ( pada hewan percobaan)
-
Tidak ada toksin selain endotoksin yang
berperan pada infeksi oportunistik
Galur Klebsiella
pneumoniae ada yang memproduksi enterotoksin (pernah diisolasi dari
penderita tropical sprue) toksin ini mirip dengan ST (tahan panas) dan LT (heat-labile
enterotoksin) dari E.coli, kemampuan memproduksi toksin ini diperantarai oleh
plasmid Klebsiella pneumoniae.
Menyebabkan pneumonia dapat menginfeksi tempat lain disamping saluran
pernafasan.
Bakteri ini sering menimbulkan pada traktus
urinarius karena nosocomial infection, meningitis, dan pneumonia pada penderita
diabetes mellitus atau pecandu alcohol. Gejala pneumonia yang disebabkan oleh
bakteri ini berupa gejala demam akut, malaise (lesu), dan batuk kering,
kemudian batuknya menjadi produktif dan menghasilkan sputum berdarah dan
purulent (nanah). Bila penyakitnya berlanjut akan terjadi abses nekrosis
jaringan paru, bronchiectasi dan vibrosis paru-paru.
F.
Cara penularan bakteri Klebsiella pnemoniae
Klebsiella
pneumoniae yang
menyebabkan penyakit paru-paru memberikan penampakan berupa pembengkakan
paru-paru sehingga lobus kiri dan kanan paru-paru menjadi tidak sama; demam
(panas-dingin); batuk-batuk (bronkhitis); penebalan dinding mukosa; dan dahak
berdarah.
Cara penularan ( infeksi ) dari Klebsiella pneumoniae pada pasien rawat inap dapat melalui 3 cara,
yaitu :
1.
Aspirasi
cairan gaster atau orofaring yang mengandung koloni kuman patogen.
2.
Penyebaran
kuman secara hematogen ke paru
3.
Penyebaran
melalui udara oleh aerosol atau droplet yang mengandung mikroba.
G. Gejala
klinis
Gejala-gejala seseorang yang terinfeksi Klebsiella pneumoniae adalah napas cepat
dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah
frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2
bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak
usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pneumonia Berat ditandai dengan adanya
batuk atau (juga disertai) kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan
dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing) pada anak usia 2
bulan sampai kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga Pneumonia
sangat berat, dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis
sentral dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak dibawah 2 bulan, pnemonia
berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih
atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam,
batuk-batuk, perubahan karakteristik dahak, suhu tubuh lebih dari 38 º C. Gejala
yang lain, yaitu apabila pada pemeriksaan fisik ditemukan suara napas
bronkhial, bronkhi dan leukosit lebih dari 10.000 atau kurang dari 4500/uL.
Pada pasien usia lanjut atau pasien dengan respon imun
rendah, gejala pneumonia tidak khas, yaitu berupa gejala non pernafasan seperti
pusing, perburukan dari penyakit yang sudah ada sebelumnya dan pingsan.
Biasanya frekuensi napas bertambah cepat dan jarang ditemukan demam.
H. Pengobatan
Beberapa jenis Klebsiella pneumonia dapat diobati dengan
antibiotik, khususnya antibiotik yang mengandung cincin beta-laktam.
Contoh antibiotik tersebut adalah ampicillin,
carbenicillin, amoxiciline, dll. Dari hasil penelitian diketahui bahwa
Klebsiella pneumonia memiliki sensitivitas 98,4% terhadap meropenem, 98,2%
terhadap imipenem, 92,5% terhadap kloramfenikol, 80 % terhadap siprofloksasin,
dan 2% terhadap ampisilin. Strain baru dan Klebsiella pneumonia kebal terhadap
berbagai jenis antibiotik dan sampai sekarang masih dilakukan penelitian untuk
menemukan obat yang tepat untuk menghambat aktivitas atau bahkan membunuh
bakteri tersebut.
I. Diagnosa
Laboratorium
Pada pemerikasaan laboratorium
terdapat peningkatan jumlah leukosit, biasanya lebih dari 10.000/µl
kadang-kadang mencapai 30.000/µl, dan pada hitungan jenis leukosit terdapat
pergeseran kekiri serta terjadi peningkatan LED. Untuk menentukan diagnosis
etiologi diperlukan pemeriksaan dahak, kultur darah dan serologi.
Sujudi.
2002. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Simanjuntak,
Cyrus H. .Epidemiologi Disentri. Cermin Dunia
Kedokteran No. 72, 1991 19. Jakarta : Pusat Penelitian Penyakit Menular, Rattan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R.I.
Nugroho, Edi dkk.1996.Mikrobiologi
kedokteran.EGC:Jakarta
PEWARNAAN GRAM
pengecatan Gram merupakan salah satu teknik pengecatan yang dikerjakan di laboratorium mikrobiologi untuk kepentingan identifikasi mikroorganisme. Morfologi mikroskopik mikroorganisme yang diperiksa dan sifatnya yang khas terhadap pengecatan tertentu (pengecatan Gram) dapat digunakan untuk identifikasi awal. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cepat dan biaya murah serta, dalam kasus tertentu, dapat membantu dokter untuk memulai terapi suatu penyakit tanpa menunggu hasil kultur.
Metode pengecatan tersebut pertama kali ditemukan oleh Christian Gram pada tahun 1884. Dengan metode pengecatan Gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya. Oleh karena itu, pengecatan Gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp.
PERSIAPAN
Sebelum dilakukan pengecatan Gram, tentu harus disiapkan bahan (spesimen) yang akan diperiksa. Bahan yang akan diperiksa, dapat berasal dari : 1) langsung dari penderita dapat berupa sputum (dahak), pus (nanah), discharge telinga, discharge hidung, urin dan cairan serebrospinal.
Spesimen yang akan dicat, sebelumnya dibuat sediaan atau preparat (smear) terlebih dulu. Pengertian preparat adalah sampel spesimen yang diletakkan atau dioleskan pada permukaan gelas obyek (object glass) atau slides, dengan atau tanpa pewarnaan, yang selanjutnya dapat diamati di bawah mikroskop.
a. Pembuatan preparat
Alat dan bahan yang diperlukan adalah :
Alat :
Ose atau kapas lidi steril
Gelas obyek
Lampu spiritus
Bahan :
Bahan yang akan diperiksa.
Untuk bahan yang berbeda, memerlukan cara pembuatan preparat yang berbeda pula. Berikut cara pembuatan preparat untuk berbagai sumber bahan.
a.1. Bahan langsung dari penderita
Bahan disentrifuge terlebih dulu, kemudian endapannya dibuat preparat. Bahan yang berupa endapan (pellet) hasil sentrifuge tersebut diambil dengan ose steril atau kapas lidi steril kemudian digoreskan pada gelas obyek setipis mungkin. Panaskan gelas obyek di atas nyala api lampu spiritus sambil diayunkan secukupnya (jarak preparat sampai nyala api kira-kira 20 cm), sampai preparat tersebut kering. Setelah kering, teteskan formalin 1 % tunggu selama 5 menit dan keringkan sekali lagi. Setelah betul-betul kering, preparat siap dicat.
a.2. Bahan dari biakan cair
Ambil gelas obyek yang bersih dan steril, bebaskan dari lemak dengan memanaskan di atas nyala api spiritus. Ambil kuman dari biakan cair (yang sebelumnya telah diaduk secara steril) dengan menggunakan ose steril, ratakan pada gelas obyek sehingga membentuk diameter kira-kira 1-2 cm. Preparat yang sudah dibuat kemudian dikeringkan dan ditetesi formalin dengan cara seperti pembuatan preparat langsung.
a.3. Bahan dari media pertumbuhan padat
Ambil gelas obyek yang bersih dan steril, bebaskan dari lemak dengan memanaskan di atas nyala api spiritus. Teteskan satu ose kaldu atau NaCl pada gelas obyek tersebut. Dengan ose steril, ambil satu koloni kuman dan ratakan pada gelas obyek sehingga membentuk diameter 1 – 2 cm, campur dengan kaldu tadi sampai homogen kemudian tipiskan. Selanjutnya dikerjakan sebagaimana membuat preparat dengan bahan berasal dari penderita.
Prinsip yang selalu harus diingat dan dipatuhi adalah :
Selalu mensterilkan ose, pada saat akan dipakai dan setelah dipakai.
Letakkan ose pada tempatnya, jangan diletakkan di sembarang tempat (misal di atas meja)
Jangan memegang mata (ujung) ose dengan tangan.
Usahakan tidak banyak bicara pada saat kerja.
b. Cat Gram
Cat Gram yang digunakan terdiri dari 4 macam, yaitu cat Gram A, B, C dan D. Masing-masing mempunyai komposisi dan fungsi yang berbeda. Komposisi dan fungsi masing-masing cat Gram, adalah sebagai berikut :
1. Cat Gram A
Cat ini terdiri atas :
Kristal violet : 2 gram
Etil alkohol 95 : 20 ml
Ammonium oksalat : 0,8 gram
Akuades : 80 ml
Cat Gram A berwarna ungu (karena mengandung kristal violet). Cat Gram A merupakan cat primer yang akan memberi warna mikroorganisme target. Pada saat diberi cat ini, semua mikroorganisme akan berwarna ungu sesuai warna cat Gram A.
2. Cat Gram B
Cat ini terdiri atas :
Yodium : 1 gram
Kalium Yodida : 2 gram
Akuades : 300 ml
Cat Gram B berwarna coklat. Cat Gram B merupakan cat Mordan, yaitu cat atau bahan kimia yang berfungsi memfiksasi cat primer yang diserap mikroorganisme target. Akibat pemberian cat Gram B, maka pengikatan warna oleh bakteri akan lebih baik (lebih kuat).
3. Cat Gram C
Cat ini terdiri atas :
Aseton : 50 ml
Etil alkohol 95 % : 50 ml
Cat Gram C tidak berwarna. Cat ini berfungsi untuk melunturkan cat sebelumnya. Akibat pemberian cat C akan terjadi 2 kemungkinan :
§ Mikroorganisme (bakteri) akan tetap berwarna ungu, karena tahan terhadap alkohol. Ikatan antara cat dengan bakteri tidak dilunturkan oleh alkohol. Bakteri yang bersifat demikian disebut bakteri Gram positif.
§ Bakteri akan tidak berwarna, karena tidak tahan terhadap alkohol. Ikatan antara cat dengan bakteri dilunturkan oleh alkohol. Bakteri yang bersifat demikian dikelompokkan sebagai bakteri Gram negatif.
4. Cat Gram D
Cat Gram D terdiri atas :
Safranin : 0,25 gram
Etil alkohol 95 % : 10 ml
Akuades : 90 ml
Cat ini berwarna merah. Cat ini merupakan cat sekunder atau kontras. Cat ini berfungsi untuk memberikan warna mikroorganisme non target. Cat sekunder mempunyai spektrum warna yang berbeda dari cat primer. Akibat pemberian cat Gram D, akan terjadi 2 kemungkinan :
Bakteri Gram positif akan tetap berwarna ungu, karena telah jenuh mengikat cat Gram A sehingga tidak mampu lagi mengikat cat Gram D.
Bakteri Gram negatif akan berwarna merah, karena cat sebelumnya telah dilunturkan oleh cat Gram C maka akan mampu mengikat cat Gram D.
Dasar teori cat Gram
Berdasarkan sifat terhadap cat Gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif. Terdapat dua teori yang dapat menjelaskan dasar perbedaan ini yaitu :
1. Teori Salton
Teori ini berdasarkan kadar lipid yang tinggi (20 %) di dalam dinding sel bakteri Gram negatif. Zat lipid ini akan larut selama pencucian dengan alkohol. Pori-pori pada dinding sel membesar, sehingga zat warna yang sudah diserap mudah dilepaskan dan bakteri menjadi tidak berwarna.
Bakteri Gram positif mengalami denaturasi protein pada dinding selnya akibat pencucian dengan alkohol. Protein menjadi keras dan beku, pori-pori mengecil sehingga kompleks kristal yodium yang berwarna ungu dipertahankan dan bakteri akan tetap berwarna ungu.
2. Teori permeabilitas dinding sel
Teori ini berdasarkan tebal tipisnya lapisan peptidoglikan dalam dinding sel. Bakteri Gram positif mempunyai susunan dinding yang kompak dengan lapisan peptidoglikan yang terdiri dari 30 lapisan. Permeabilitas dinding sel kurang, dan kompleks kristal yodium tidak dapat keluar.
Bakteri Gram negatif mempunyai lapisan peptidoglikan yang tipis, hanya 1 – 2 lapisan dan susunan dinding selnya tidak kompak. Permeabilitas dinding sel lebih besar sehingga masih memungkinkan terlepasnya kompleks kristal yodium.
CARA PENGECATAN GRAM
Sebelum melakukan pengecatan Gram, siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
Pastikan semua alat dan bahan yang diperlukan serta tempat untuk mencuci terletak di tempat yang terjangkau. Jangan sampai terlalu jauh sehingga menyulitkan dan memakan waktu.
Alat dan bahan yang diperlukan adalah :
Alat :
Rak pengecatan
Kran/sumber air yang mengalir
Bahan :
Cat Gram A, B, C dan D
Preparat yang telah siap untuk dicat
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PENGECATAN GRAM
Kelebihan :
Pengecatan Gram penting sebagai pedoman awal untuk memutuskan terapi antibiotik, sebelum tersedia bukti definitif bakteri penyebab infeksi (kultur dan tes kepekaan bakteri terhadap antibiotik). Hal ini karena bakteri Gram positif dan negatif mempunyai kepekaan yang berbeda terhadap berbagai jenis antibiotika.
Kadang-kadang morfologi bakteri yang telah dicat Gram mempunyai makna diagnostik. Misalnya pada pemeriksaan Gram ditemukan Gram negatif diplococci intraseluler dari spesimen pus (nana) uretral, maka memberikan presumptive diagnosis untuk penyakit infeksi gonore.
Kekurangan :
Pengecatan Gram memerlukan mikroorganisme dalam jumlah banyak yakni lebih dari 104 per ml. Sampel yang cair dengan jumlah kecil mikroorganisme misalnya cairan serebrospinal, memerlukan prosedur sentrifuge dulu untuk mengkonsentrasikan mikroorganisme tersebut. Pellet (endapan hasil sentrifuge) kemudian dilakukan pengecatan untuk diperiksa secara mikroskopis.
Pustaka acuan :
Nirwati, Hera, _______, Pembuatan Preparat dan Pengecatan dalam Petunjuk Praktikum Mikrobiologi, Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Strohl, William A, Rouse,H, Fisher, BD, 2001, Lippincott’s Illustrated Reviews: Microbiology, Lippincott William & Wilkins, USA
spesimen dan sampel
SPESIMEN DAN SEMPEL
A. SPESIMEN
Adalah sejumlah darah yang
di ambil untuk pemeriksaan satu jenis atau lebih tes lab.
B. SAMPEL
Adalah sebagian (aliquot)
specimen darah yang di ambil ,dikirim dan diproses di dalam laboratorium sbagai
bahan untuk pemeriksaan tertentu
Contoh :aliquot dari
wholeblood dengan antikoagulan ,aliquot dari plasma ,aliquot dari serum
PENANGANAN SPESIMEN
A. MACAM SEPESIMEN
Speimen yang berasal dari manusia dapat berupa :
1. Serum
2. Plasma
3. Darah
4. Urin
5. Tinja
6. Sputum
7. Cairan otak
8. Bilasan lambung
9. Apus tenggorok
10. Apus rectum
11. Pus
12. Sperma
13. Persiapan
14. Caran pleura
15. Cairan ascites
16. Skret : ureta,telinga,hidung,mata
B. Persiapan
C. 1. Persiapan secara umum
a. Persiapan pasien untuk pengambilan specimen pada keadaan basal
1) Untuk pemeriksaan tertentu pasien harus puasa 8-12 jam sebelum di
ambil darah ( contoh :glukosa puasa,trigliserida,asam urat ,dll).
2) Pengambilan specimen sebaliknya ,pagi hari antara 07.00-09.00
b. Menghindari obat’’tan sebelum
specimen di ambil
1) Untuk pemeriksaan dengan specimen draah ,tidak minum obat 4-24 jam
sebelum pengembalian sspesimen
2) Ntuk pemeriksaan specimen darah,tidak minum obat 48-72 jam sebelum
pengambilan darah.
3) Apabila pemberian pengobatan tidak memungkinkan untuk di hentikan ,
harus di informasikan kepda petugas lab
Contoh : sebelum pemeriksaan gula 2 jam pp pasien minum
obat anti dabetes
c. Menghindari aktifitas fisik/olahraga sebelum specimen diambil
d. Memperhatikan efek postur
Untuk menormalakan keseimbangan cairan tubuh dari posisi
berdiri ke posisi duduk, di anjurkan pasien duduk tenang sekurang-kurangnya 15
ment sebelum diambil darah.
e. Memperatikan variasi diurnal(perubahan kadar analit sepanjang hari
pemeriksaan yang dipengaruhivariasi diurnal perlu di perhatikan wkatu
pngambilan darahnya
Antara lain : pemeriksaan ACTH ,rennin, aldosteron
2. factor pada pasien yang dapat mmpengrauhi hasil
pemeriksaan
a. diet
makanan dan minuman dapat mempengaruhi hasil beberapa pemeriksaan
,baik langsung maupun tdk langsung akan menyebabkan terjadinya respon tubuh
terhadap obat tersebut
Langganan:
Postingan (Atom)